JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat gerakan pilah sampah dari sumber sebagai langkah nyata menghadapi persoalan sampah perkotaan. Melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, Jakarta didorong menjadi pelopor budaya pilah sampah nasional yang dimulai dari rumah tangga, kawasan perkantoran, hingga pusat-pusat usaha.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan mengatakan, langkah Jakarta memulai gerakan pilah sampah dari sumber merupakan terobosan penting yang layak diapresiasi dan dapat menjadi contoh bagi daerah lain.
“Saya memberikan penghargaan yang tinggi karena gerakan memilah sampah ini dipelopori oleh Gubernur Jakarta. Ke depan, kantor harus menyelesaikan sampahnya sendiri, pasar harus selesai di pasar, restoran selesai di restoran, mal selesai di mal. Tapi kuncinya tetap ada di masyarakat, yaitu memilah sampah dari rumah,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jumhur Hidayat menilai Jakarta memiliki potensi besar menjadi pelopor gerakan pilah sampah bagi kota-kota lain di Indonesia. Ia juga mengapresiasi langkah Pemprov DKI Jakarta yang telah menyiapkan peta jalan menuju penghentian praktik open dumping di TPST Bantargebang.
“Mulai 1 Agustus 2026, Bantargebang hanya akan menerima residu. Ini langkah besar yang harus didukung bersama. Peradaban sebuah bangsa juga ditentukan dari bagaimana kita memperlakukan sampah,” katanya.
Menurut Jumhur, berbagai fasilitas pemilahan sampah yang telah disiapkan Pemprov DKI Jakarta perlu dimanfaatkan secara konsisten agar budaya pilah sampah benar-benar tumbuh menjadi kebiasaan baru masyarakat.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menegaskan, gerakan pilah sampah harus dijalankan secara serius dan berkelanjutan agar persoalan sampah Jakarta yang selama ini terus berulang dapat diselesaikan secara bertahap.
“Mudah-mudahan setelah deklarasi komitmen gerakan pilah sampah dari seluruh elemen masyarakat ini dibacakan, gerakan ini benar-benar menjadi budaya baru bagi Jakarta. Harapan saya, persoalan sampah Jakarta yang selama ini belum terselesaikan dapat kita atasi bersama,” tuturnya.
Pramono menambahkan, seluruh wilayah Jakarta mulai menerapkan pemilahan sampah dari sumber, termasuk kawasan perkantoran serta sektor hotel, restoran, dan kafe (HORECA). Sampah dipilah ke dalam empat kategori, yakni organik, anorganik, B3 rumah tangga, dan residu.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi menjelaskan, ketika masyarakat mulai terbiasa memilah sampah dari sumber, sebagian besar sampah sebenarnya dapat diselesaikan sejak dari hulu. Dengan begitu, hanya sedikit residu yang perlu diproses di fasilitas pengolahan akhir.
Ia menambahkan, Kelurahan Rorotan dan sejumlah wilayah lain telah mulai menerapkan sistem pemilahan sampah dan akan menjadi contoh untuk direplikasi di berbagai kawasan Jakarta.
“Gerakan ini tidak akan berhasil tanpa keterlibatan masyarakat. Karena itu, kami mengajak seluruh warga mulai membiasakan memilah sampah dari rumah agar pilah sampah benar-benar menjadi budaya baru yang berkelanjutan untuk Jakarta,” tutup Dudi.