Memahami Indeks Standar
Pencemar Udara (ISPU)

Panduan lengkap mengenai parameter kualitas udara, kategori bahaya, dan langkah-langkah kesehatan yang perlu Anda ambil untuk melindungi diri dan keluarga di Jakarta.

Stasiun Pemantauan Kualitas Udara

Apa itu ISPU?

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) adalah angka tanpa satuan yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup memantau nilai ISPU secara berkala. Angka ini dihitung berdasarkan parameter utama seperti Partikulat (PM10 & PM2.5), Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2), dan Ozon (O3) sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 12 tahun 2020. Kami hadir untuk memastikan masyarakat selalu mendapatkan informasi yang mudah dipahami demi menjaga kualitas hidup yang lebih sehat.

Indeks Kualitas Udara Berdasarkan ISPU

Informasi terkini mengenai kualitas udara, dampak kesehatan, dan panduan praktis untuk menghadapi polusi di ibu kota setiap hari.

0-50

Baik

Baik

Tingkat kualitas udara yang sangat baik. Tidak memberikan efek negatif pada manusia, hewan, maupun tumbuhan.

51 - 100

Sedang

Sedang

Kualitas udara masih dapat diterima secara umum dan tidak memberikan dampak buruk pada kesehatan makhluk hidup.

101 - 200

Tidak Sehat

Tidak Sehat

Tingkat kualitas udara yang mulai merugikan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan di sekitar.

201 - 300

Sangat Tidak Sehat

Sangat Tidak Sehat

Kualitas udara berada pada tingkat yang dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.

≥ 301

Berbahaya

Berbahaya

Tingkat kualitas udara yang sangat serius dan dapat mengakibatkan kerusakan kesehatan yang parah.

Parameter Polutan yang Diukur

Informasi terkini mengenai kualitas udara, dampak kesehatan, dan panduan praktis untuk menghadapi polusi di ibu kota setiap hari.

PM2.5

Partikulat Halus (PM2.5)

Partikel berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer yang berasal dari asap kendaraan, industri, dan pembakaran biomassa. Sangat berbahaya karena dapat menembus jauh ke saluran pernapasan terdalam dan masuk ke aliran darah.

PM10

Partikulat Kasar (PM10)

Partikel berdiameter kurang dari 10 mikrometer yang bersumber dari debu jalan, konstruksi, dan aktivitas industri. Dapat terhirup dan mengendap di saluran pernapasan bagian atas, menyebabkan iritasi dan gangguan pernapasan.

NO2

Nitrogen Dioksida (NO2)

Gas berwarna coklat kemerahan yang terbentuk dari pembakaran bahan bakar kendaraan dan industri. Paparan jangka pendek dapat memperburuk asma, sementara paparan jangka panjang meningkatkan risiko penyakit paru kronis.

SO2

Sulfur Dioksida (SO2)

Gas tajam berbau menyengat yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung belerang, seperti di pembangkit listrik dan pabrik. Dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan serta memperburuk kondisi asma.

CO

Karbon Monoksida (CO)

Gas tidak berwarna dan tidak berbau yang dihasilkan dari proses pembakaran tidak sempurna, seperti gas buang kendaraan bermotor. Mengikat hemoglobin lebih kuat dari oksigen sehingga mengurangi kemampuan darah mengangkut oksigen ke organ vital.

O3

Ozon Permukaan (O3)

Gas polutan sekunder yang terbentuk dari reaksi kimia polutan lain di udara di bawah sinar matahari. Berbeda dengan lapisan ozon pelindung di stratosfer, ozon di permukaan tanah berbahaya bagi pernapasan dan dapat merusak jaringan paru.

HC

Hidrokarbon (HC)

Senyawa organik yang terdiri dari karbon dan hidrogen. Bersumber dari emisi kendaraan dan penguapan bahan bakar. Beberapa jenis bersifat karsinogenik dan dapat bereaksi dengan NO2 di bawah sinar matahari membentuk Ozon permukaan.

BC

Black Carbon (BC)

Partikel karbon hitam hasil pembakaran tidak sempurna bahan bakar fosil dan biomassa. Merupakan komponen utama jelaga kendaraan diesel. Selain berbahaya bagi kesehatan paru dan jantung, Black Carbon juga berkontribusi signifikan terhadap pemanasan iklim.

Parameter Meteorologi yang Diukur

Data kondisi cuaca dan atmosfer yang turut memengaruhi penyebaran dan konsentrasi polutan udara di Jakarta.

Arah Angin (WD)

Arah datangnya angin yang diukur dalam derajat (°) dari utara searah jarum jam. Informasi ini penting untuk mengidentifikasi asal sumber polutan dan memprediksi wilayah yang berpotensi terdampak pencemaran udara.

Kecepatan Angin (WS)

Kecepatan pergerakan massa udara yang diukur dalam meter per detik (m/s). Angin kencang membantu menyebarkan dan mengencerkan polutan, sementara kondisi angin tenang menyebabkan akumulasi polutan di suatu area.

Kelembapan Relatif (RH)

Persentase kandungan uap air di udara terhadap kapasitas maksimumnya pada suhu tertentu, diukur dalam persen (%). Kelembapan tinggi dapat meningkatkan konsentrasi partikel higroskopis dan memperparah kabut polusi.

Suhu Udara (T)

Suhu udara ambien diukur dalam satuan derajat Celsius (°C). Suhu yang tinggi dapat mempercepat reaksi kimia pembentukan polutan sekunder seperti ozon permukaan dan meningkatkan penguapan senyawa organik berbahaya.

Mengapa Data Meteorologi Penting?

Parameter meteorologi dan kualitas udara saling berkaitan erat. Kondisi cuaca secara langsung memengaruhi konsentrasi, distribusi, dan transformasi polutan di atmosfer. Data meteorologi digunakan bersama data polutan untuk menghasilkan analisis kualitas udara yang lebih akurat dan prediksi persebaran polutan yang lebih andal.

Mengapa Memantau ISPU Itu Penting?

Mengetahui nilai ISPU harian membantu Anda mengambil keputusan cerdas sebelum beraktivitas di luar ruangan. Dengan memantau tingkat polusi secara aktif, masyarakat dapat meminimalkan risiko paparan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita masalah pernapasan.

Lihat Kualitas Udara Hari Ini